Page tree

Bagikan:  


Apa yang memikat keluarga CEO kita saat kunjungan sosial mereka ke Sumba? Baca kisah mereka di sini!

Sementara Chief Executive Officer kita, Jaroslav Gaisler, sibuk menyiapkan presentasi untuk shareholder bersama tim SMT, keluarganya memiliki rencana akhir pekan yang lebih menarik. Bersama dengan keluarga duta besar Republik Ceko dan perwakilan dari Happy Hearts Fund Indonesia (HHFI), istri dan anak-anak dari pria yang sering kita sebut Jarda ini melakukan kunjungan sosial ke Sumba.

Perjalanan dari Jakarta ke Sumba membutuhkan waktu sekitar 3 jam menggunakan pesawat, dengan sekali transit di Denpasar. Pulau Sumba sendiri dikenal dengan pemandangan pantainya yang masih perawan dan hutan hujannya yang mempesona, yang sekaligus menjadi habitat dari berbagai flora dan fauna unik. Di Sumba, kamu bisa melihat indahnya air terjun, laguna, danau, bukit yang lapang, dan hamparan sabana yang luas. Kamu juga bisa menemukan kuda dan kerbau berlari di alam bebas. Kedua satwa ini merupakan simbol status yang penting di Sumba.

Banyaknya rekomendasi yang positif dari orang-orang yang pernah berkunjung ke Sumba tentu membuat keluarga Gaisler bersemangat untuk berkunjung.

Berbagi dengan Penduduk Sumba

Terlepas dari pemandangan alamnya yang mempesona, bukan karena alasan itulah keluarga Gaisler berkunjung ke Sumba kali ini. Di kesempatan ini, mereka datang ke Sumba untuk berbagi dengan komunitas lokal Sumba bersama dengan HHFI. Sumba merupakan pulau dengan perekonomian termiskin kedua di Indonesia, di mana rata-rata setiap keluarga memiliki 5-6 anak. Penduduk setempat di Sumba sangat membutuhkan fasilitas sekolah. HHFI ingin membantu mewujudkan hal ini, dan memasang target yang ambisius, yaitu membangun 100 taman kanak-kanak dan sekolah baru di Sumba. Dalam kunjungan mereka ke Sumba, keluarga Gaisler bekerjasama dengan HHFI untuk merestorasi gedung sekolah terbaru yang dibangun HHFI dan mendistribusikan berbagai barang donasi seperti mainan, pakaian, peralatan tulis, dan makanan. 

“Kami bertemu dengan anak-anak di taman kanak-kanak setempat dan berjabat tangan dengan seorang pria tua yang mendonasikan lahannya untuk bangunan sekolah. Beliau menyadari bahwa melalui pendidikan, kita dapat mengubah stereotype yang ada di masyarakat tentang Sumba dan menaikkan taraf hidup di Sumba.” tutur Jana Gaislerova, istri Jarda.

Akomodasi Unik di Asrama Sekolah

Ada kejutan seru terkait tempat akomodasi keluarga Gaisler di Sumba. Mereka tidak menyangka bahwa mereka akan tinggal di gedung asrama sekolah bersama dengan 50 pelajar setempat. Sekolah ini dikelola oleh Sumba Hospitality Foundation, yang didirikan dan dikepalai oleh Inge de Lathauwer.

Di sekolah ini, para pelajar bertanggungjawab untuk menjamu tamu-tamu di lima bungalo. Gedung ini juga dilengkapi dengan satu restoran dan area resepsionis. Di sini, para pelajar dibekali ilmu memasak, berkebun, dan berbahasa inggris. Mereka dituntut untuk berinteraksi dengan para tamu dalam bahasa Inggris, dan berdasarkan testimoni dari keluarga Gaisler, kemampuan komunikasi bahasa Inggris para pelajar ini sangat baik. Setelah setahun belajar, para pelajar akan magang di hotel-hotel di Sumba dan Bali untuk mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari.

Mayoritas dari pelajar mendapatkan tawaran kerja setelah masa magang mereka berakhir. Ini tentu menunjukkan kualitas pendidikan mereka dan tidak heran jika jumlah orang yang tertarik untuk belajar di sekolah ini mencapai 800 orang di semester kedua!

Ingin pengalaman akhir pekan yang lebih bermanfaat untuk sesama? Ayo tiru pengalaman kunjungan keluarga Gaisler di Sumba!